Dunia Sophie, sebuah novel filsafat (review part.1)

Novel Dunia Sophie berhasil menguras perhatianku akhir-akhir ini. Walau mataku sudah lelah memandang layar laptop/ handphone, bukan berarti ratusan lembar novel ini hanya untuk dilewatkan begitu saja. Aku  ingin membagi kekagumanku terhadap sang penulis, Jostein Gaarder. Ia dapat menjelaskan segala sesuatu yang rumit jadi sederhana. Sebagai contoh, ia mengaitkan mainan lego dengan konsep atom-nya Democritus. Aku bukan mahasiswa filsafat, tidak gemar membaca buku – buku filsafat, tidak relijius, tidak tergabung dalam bidang keilmuan filsafat, jadi ini adalah tulisan orang awam tentang novel filsafat.

Sedikit bocoran, kita berpetualang bersama Sophie Amundsen, gadis remaja 14 tahun yang menjadi tokoh utama Dunia Sophie dalam buku Dunia Sophie. Nah, ini bukan salah ketik tapi memang benar adanya : Dunia Sophie dalam buku Dunia Sophie. Jika penasaran, bacalah! Plot cerita tentang keberadaan Sophie tidak akan dibahas di sini. Mengetahui sendiri sepertinya lebih asik daripada diberitahu.

(Selingan agak panjang  sebelum mereview buku, wkwkw)

Pembimbing ekstrakulikuler saat SMA adalah seorang mahasiswa filsafat (saat ini beliau menjadi sutradara). Beliau kerap bertanya hal-hal -yang-menurutku-random. Temanku kebetulan namanya Sofi, ditanya olehnya, “Kamu tahu apa arti Sofi? ………….Sofi berarti kebijaksanaan. Kamu mungkin diharapkan menjadi perempuan bijaksana, sesuai namamu.” (Filsafat, philo- penyuka, sedangkan sophia – bijaksana)

Aku pun pernah ditanya,
“Siapa kamu? Apa esensimu?”,
“Hah, gimana mas? aku gak paham samasekali……………………”
“…blablaba… sesuatu yang menjadikan sesuatu itu sesuatu…. (aku lupa lanjutannya)”

Aku pun berpikir keras,

“Aku….. manusia? Ha..ha..ha..”
(sambil berharap semoga tidak ditanyai lebih jauh, ‘apa itu manusia?’)

Transkrip obrolan seterusnya, tentu saja aku lupa :))). Aku baru 16 tahun saat itu, dan dia mungkin 26. Aku tidak tertarik filsafat, bahkan aku tidak menyelesaikan membaca karya sastra Paulo Coelho dan Umberto Eco. Aku cuma tahu filosof Aristoteles lewat buku pelajaran Kewarganegaraan tentang bentuk pemerintahan. Hahaha. Aku bukanlah Sophie Amundsen yang berusaha ingin tahu. Pertanyaan tentang esensi tadi segera lenyap diusir oleh pembicaraan remeh temeh a la remaja bersama teman-temanku.

Balik lagi.

Ketika membaca buku ini, aku seolah kembali duduk di ruang kuliah lantai 3 menyimak kuliah seorang profesor pada mata kuliah metode penelitian tiga tahun lalu. Dulu aku benar-benar clueless tentang keyword-keyword yang kucatat -‘Spinoza – Ketuhanan-Monistik, Descartes- Dualistik”, -rasionalisme’. Menyimak seperti apa kerangka berpikir lewat sang tokoh-tokoh ini, dan seperti apa perkembangan metode penelitian mungkin akan lebih menarik jika aku sudah membaca novel ini. (menyesal baru baca sekarang). 

Menurutku, novel Dunia Sophie bermuatan pelajaran filsafat barat. Kita diajak meninjau perjalanan pemikiran para filosof dari masa ke masa (secara kronologis) selama ribuan tahun. Dari Thales, sang filosof alam, yang menyatakan air adalah arkhe dari segala sesuatu di dunia, sampai masa kontemporer, eksistensialisme-nya Jean Paul Sartre. Ketiga puluh lima chapter dibagi empat bagian besar (?), cmiiw, yaitu :

  1. Filosof Masa Purba,
  2. Filosof Masa Abad Pertengahan
  3. Filosof Masa Modern
  4. Filosof Masa Kontemporer

Dalam bahasan ‘Akademi Plato’, terdapat judul ‘Kebenaran Abadi, Keindahan Abadi, dan Kebaikan Abadi.’ “Para filosof berusaha untuk mengabaikan masalah-masalah yang sedang menjadi buah bibir, dan mencoba untuk menarik perhatian orang-orang pada apa yang selalu ‘benar’, selalu ‘indah’, dan selalu ‘baik.'” (halaman 145)

REVIEW PART.1

“Siapakah aku?” , “Dari mana asalnya dunia?”.

Manusia  mempertanyakan bagaimana alam semesta bekerja, diawali dengan mitos dewa atau kekuatan yang lebih besar dari manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Mitologi Nordik tentang Thor pun dipaparkan secara asyik. Setelah itu, para sophis menolak mitologi sebagai kebenaran karena berkeyakinan akal manusia merupakan sumber utama pengetahuan kita tentang dunia. Buku ini lantas agak berbau fisika karena menjelaskan sifat zat-zat penyusun benda. Para filosof alam adalah Thales, Anaximander, Anaximenes dari Miletus, Parmenides (“Tidak ada sesuatu yang dapat berubah”) vs Heraclitus (“Segala sesuatu dapat berubah” (mengalir)), dan Democritus (“Apakah bagian minimal dari susunan alam semesta?”)

kutipan menarik dari buku, Orang yang paling bijaksana adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu. Pengetahuan yang sejati berasal dari dalam. Barang siapa mengetahui yang benar akan bertindak benar.

Bahkan seorang Socrates pun mengatakan, ‘Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa.’ Merasa tidak tahu adalah langkah pertama untuk mencapai kemajuan. Tahu sedikit, tapi merasa tahu banyak, seolah mengetahui tentang sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya adalah sikap yang semestinya kita hindari. Bahkan, walaupun kita tahu, haruslah tetap belajar karena masih sangat banyak hal-hal yang kita tidak ketahui. Aku jadi ingat ada yang namanya ‘kesombongan akademik’, atau ‘kesombongan intelektual’. Kesombongan ini ujungnya hanya akan mencelakakan kita sendiri, kata penceramah kuliah umum gladi bersih wisuda kemarin.

Pengetahuan sejati diperoleh dari berusaha memahami, melalui perenungan, membaca, dan diskusi dengan orang lain. Menurutku, diskusi itu penting sekali agar tidak merasa ‘selalu benar’, sedangkan yang lain ‘selalu salah’, apalagi ketika pengetahuan itu diperoleh secara ‘satu arah’ , bersifat tutorial, bersumber hanya dari satu orang saja.

Adanya pembahasan mengenai toleransi tercermin jawaban Sophie, si anak 14 tahun, saat ujian agama,

“Belakangan ini, orang-orang dari berbagai negara dan kebudayaan semakin bercampur dan membaur. Orang Kristen, Muslim, dan Buddha mungkin tinggal dalam satu bangunan apartemen yang sama. Dalam hal itu, adalah lebih penting untuk menerima kepercayaan masing-masing daripada menanyakan mengapa setiap orang tidak mempercayai hal yang sama.” (halaman 205)

Ketika aku berkunjung ke Rumah Kuwera, aku melihat gambar pohon pemikiran Romo Mangun yang dibingkai apik. Penjelasan bapak pengurus Rumah Kuwera juga menarik, kurang lebihnya seperti ini, “Bisa dilihat gambar paling atas adalah matahari menyinari pohon, Tuhan, dapat terbaca sebagai religiusitas yang berasal dari dalam lubuk hati manusia. Kenapa kita bisa saling membenci antarumat beragama jika sudah memiliki religiusitas? Kita sama-sama percaya pada Tuhan, menyembah dengan pemahaman dan ritual berbeda. “

Daripada kita meributkan manakah yang paling benar dari ‘apa yang hanya bisa kita percayai’ bersama orang orang beda keyakinan, bukankah lebih baik berpikir bahwa kita sama sama manusia yang memiliki hati nurani?

….

Pada subbab ‘Hellenisme’, terdapat empat kaum yang memiliki cara pandang tertentu dalam menyikapi hidup (halaman 212 -221). Ternyata kata ‘sinis’ sudah mengalami peyorasi (?) di jaman sekarang. Menurut KBBI daring, sinis bersifat mengejek atau memandang rendah. Berbeda dengan itu, sang penulis, Gaarder memaparkan bahwa kaum Sinis menekankan pada kebahagiaan tidak terdapat dalam kelebihan lahirirah, seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Agak bertalian dengan kaum sinis, terdapat kaum Stoik berkeyakinan semua proses alam tidak pernah lekang, maka manusia harus belajar untuk menerima takdirnya. Lebih lanjut, aku menemukan tulisan ini :

Kaum Stoik memandang bahwa — hingga taraf tertentu — jalannya kehidupan tidak bisa diatur. Seseorang tidak memilih dilahirkan di mana. Begitu pula dia tidak tahu besok bertemu siapa; apakah akan tertimpa musibah; atau lain sebagainya. Betul bahwa orang dapat berusaha dan berkehendak, akan tetapi kadang terdapat situasi yang tak bisa dilawan. (Irvine, hlm. 86-89) di sini . Kaum Stoik sangat menghargai ketenangan dan menganggap emosi berlebihan, seperti kemarahan, kepanikan, kesedihan, hanya membuang-buang waktu. Apakah bisa menjadi kaum stoik di jaman sekarang? Interpretasiku, kaum Stoik adalah orang-orang tenang yang selalu tawakkal ketika sudah berusaha semampunya.

Agak berbeda dengan sinisme dan stoikisme, Kaum Epicurean memiliki tujuan hidup ‘Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan”, “Kejahatan tertinggi adalah penderitaan”. Kaum ini ingin mengembangkan suatu cara hidup yang bertujuan untuk menghindari penderitaan dalam segala bentuknya. Epicurean percaya bahwa hasil yang menyenangkan jangka pendek hendaknya ditahan untuk kemungkinan kenikmatan yang lebih besar dalam jangka panjang.
(Mungkin seseorang tidak mau makan cokelat setahun penuh sebab lebih suka menabungkan uang untuk barang baru atau pergi liburan ke luar negeri). Coklat memang enak, tapi pergi liburan ke luar negeri lebih enak lagi (halaman 217)

Namun, kenikmatan yang dimaksudkan Epicurean bukan hanya yang bersifat inderawi, termasuk nilai-nilai persahabatan, seni, dan rohani. Bahkan bisa menemukan kebahagiaan pada hal hal sederhana (#Bahagiaitusederhana). Epicurean saat ini juga mengalami pergeseran makna, merujuk pada orang-orang yang memanjakan diri mencari kesenangan tak terbatas. Menurutku pemikiran Epicurean (dari beberapa bacaan ringan di internet, epikurean termasuk dalam hedonisme?), tidak bisa dinilai salah  karena nilai-nilai kehidupan setiap orang berbeda.

Benar benar hedonis atau berusaha selalu terlihat hedonis untuk pencitraan ‘selalu bahagia’? Aku masih bingung tentang ini. Aku ambil contoh agak ekstrem. Misalnya, aku yang mengidap maag kronis ini menahan diri berhemat makan dua kali sehari agar bisa makan enak dan nongkrong2 saat weekend di kafe mahal demi feeds instagram (kayaknya gak akan melakukan ginian. Absurd banget memang… Tapi pernah dengar semacam ini dilakukan oleh oknum mahasiswa semester awal/ awal usia 20-an dari temen sekelasnya).

Kenikmatan nongkrong di kafe itu kan harus dibarengi dengan prihatin dulu, bahkan bisa saja sakit perut karena skip makan. Kebahagiaannya terletak di sebelah mana kalau ternyata harus mengalami rasa sakit perut melilit…Bukannya sakit perut adalah bentuk kesengsaraan? Menurutku hal ini agak berbeda dengan ‘tidak makan coklat setahun untuk liburan ke luar negeri’ karena manusia tidak makan coklat seumur hidup pun tidak akan memberi pengaruh rasa sakit apapun dalam tubuh. Orang juga tidak akan sengsara karena hal tersebut. Rasa sakit dan sengsara adalah suatu hal yang dihindari oleh kaum Epikurean yang termasuk hedonisme. Belakangan ini marak kasus orang orang travelling demi media sosial, tapi hutang membengkak dan merasa tidak tenang karena diburu oleh teman-teman yang merasa dirugikan. Apakah itu termasuk hedonis? Bukankah setelah itu ia akan menjadi sengsara karena harus dicemooh, serta bekerja sangat  keras membayar hutang2nya?

Sesungguhnya aku pun ingin jadi orang yang selalu mencari kesenangan melalui hal inderawi maupun noninderawi, asal terhindar dari rasa sakit atau sengsara :)) .

Apakah hedonisme kaum epicurean bersifat relatif? Dalam hal material misalnya, aku giat menabung demi beli sepeda baru karena hobi bersepeda tiap hari. Atau Pak S, yang suka membantu ayahku beres2 rumah, begitu ia dapat honor, langsung menyisihkan 1/2 nya untuk segera upgrade peralatan memancing karena ia ingin melakukan hobi memancing tiap hari. Apapun yang membawa kesenangan dilakukan secara repetitif sebagai pengisi waktu dalam hidup atau tujuan hidup, baik itu hal2 sederhana ataupun mewah dengan menahan kesenangan jangka pendek, asal tidak berkonsekuensi membawa rasa sakit atau sengsara …… dapat dikatakan hedonis?

Kesimpulan yang sungguh ngawur. Butuh pencerahan.

(…. to be continued. next chapters will be long)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s